Pengadaan Barang Jasa, Uang Muka, Jaminan dalam Pengadaan Barang Jasa, Buku Pengadaan, Buku Tender,Pengadaan barang, Perpres 54 tahun dan revisi/perubahan perpres 54, Pengguna Anggaran (PA), Para Pihak dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Pokja ULP, PPHP, Pejabat/Panitia Penerima Hasil Pekerjaan, Pengadaan Pelaksana Konstruksi, Pengadaan Konsultansi, Pengadaan Jasa Lainnya, Swakelola, Kebijakan Umum Pengadaan, Pengadaan Langsung, Pelelangan atau Seleksi Umum, Pengadaan atau Penunjukan Langsung, Pengadaan Kredibel, Pengadaan Konstruksi, Pengadaan Konsultan, Pengadaan Barang, Pengadaan Jasa Lainnya, Jaminan Penawaran, Jaminan Pelaksanaan, SKT Migas, Tenaga Ahli, HPS, Kontrak, Evaluasi, Satu/Dua Sampul dan Dua Tahap, TKDN, Sisa Kemampuan Paket, Kemampuan Dasar, Dukungan Bank, afiliasi, Konsolidasi Perpres 54 tahun 2010, e-katalog, Penipuan Bimtek e-Procurement Kasus Pengadaan Construction, Consultation, Goods, Services, Green Procurement, Sustainable Procurement, Best Practice Procurement, Supply Chain Management http://pengadaan-barang-jasa.blogspot.co.id/search/label/kasus%20pengadaan

Wednesday, April 12, 2017

Mbiz fokus di e-katalog lkpp

Mbiz, platform yang bertujuan menyediakan solusi pengadaan barang dan jasa yang terintegrasi berbasis web memfokuskan kalangan perusahaan (B2B) dan institusi-institusi pemerintahan (B2G) sebagai target marketnya.
Mbiz didirkan pada Juli 2015 dan diperkenalkan pada masyarakat sejak Februari 2016 dan telah berkembang menjadi penyedia layanan digital e-commerce dan e-procurement untuk skala B2B dan B2G di Indonesia.

Direktur Komersial Mbiz Andik Duana Putra mengungkapkan di tahun pertamanya, Mbiz sebagai startup sudah mampu menghasilkan keuntungan di luar ekspektasi dan pihaknya optimis akan semakin berkembang ke depannya.
“Di 2016 kami banyak fokus di pemerintahan. Sekitar 90% pencapaian juga berasal dari segmen pemerintahan untuk kategori IT dan elektronik. Mulai 2017, kamu menyiapkan untuk B2B ke korporasi,” ujarnya.
Mbiz mencatat kinerja dengan nilai penjualan bersih (net merchandise value) sebesar Rp1,3 triliun, valuasi perusahaan senilai Rp1,3 triiun. Adapun nilai rata-rata kontrak transaksi sebesar Rp312 juta dan lebih dari 100.000 Stock Keeping Unit (SKU), 11 kategori barang dan jasa dengan lebih dari 4.000 sub kategori serta lebih dari 600 mitra di seluruh Indonesia.
Andik mengatakan untuk e-katalog dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), Mbiz menjadi salah stau penyedia dan saat ini serapan juga masih sangat kecil hanya 3-4%. Untuk itu pihaknya bekerja sama dengan penyedia lain untuk menggencarkan edukasi dan sosialisasi e-katalog di seluruh Indonesia.
“Market untuk e-katalog juga cukup besar. Tantangannya dari sisi logistik dan akses karena wilayah Indonesia luas. Selain itu, sosialisasi dan belum semua terkoneksi dengan internet. Porsi pemerintah ditargetkan sekitar 50% hingga 60%,” ujarnya.
Mbiz juga akan memperluas kategori barang dan jasa, saat ini terdapat 11 kategori barang dan jasa dengan lebih 4.000 sub kategori. Setidaknya ada 9 kategori yang akan dikembangkan seperti event organizer, voucher, leasing, instalation service atau maintanence, customized items, media placement, civil mechanical enginering, manpower, rental.
“Semua ketgori punya potensi, semua akan digarap karena Mbiz akan main di bank, ritel, manufaktur, perusahaan leasing, semua industri akan dikerjakan. Masing-masing perusahaan mempunyai kategori yang berbeda,” ujarnya.
COO dan Co-Founder Mbiz.co.id Ryn Hermawan mengungkapkan pihaknya optimis bisnis ini akan semakin berkembang ke depannya karena potensi besar dari skala bisnis B2B yang belum tergarap di Indonesia.
“B2B lebih besar tapi tidak banyak yang bermain di sana secara serius, kalaupun ada, hanya memegang kategori tertentu, atau hybrid, kadang B2B atau C2C, dan lainnya. Mbiz dari awal menetapkan B2B dan B2G untuk menjalankan bisnis dengan mendukung program pemerintah,” jelasnya.
Dia mengatakan kondisi pasar di Indonesia diuntungkan karena segmen B2C telah berkembang lebih dulu sehingga konsumen end user sudah terbiasa dalam ekosistem digital.
“Kami melihat B2B sudah saatnya untuk dipenetrasi, pangsa pasar sangat besar. Kami fokus pada strategi direct selling dari top ke bottom, yakni pemangku kebijakan baru bisa turun ke bawah,” ujarnya.
Sumber www.bisnis.com